review-film-once-upon-a-time-in-america

Review Film Once Upon a Time in America

Review Film Once Upon a Time in America. “Once Upon a Time in America” kembali mendapat perhatian karena kekuatan ceritanya yang melintasi masa, menelusuri persahabatan, ambisi, dan penyesalan yang terbentang sepanjang hidup para tokohnya. Film ini menghadirkan potret dunia kejahatan dari sudut pandang personal, bukan sekadar kisah bentrokan dan kekuasaan, tetapi juga perjalanan batin sekelompok sahabat yang tumbuh bersama di lingkungan keras. Dengan alur yang maju-mundur dan nuansa melankolis yang kuat, film ini mengajak penonton menyaksikan bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar hilang, melainkan selalu datang menuntut jawaban. Kembalinya pembahasan tentang film ini menunjukkan bahwa topiknya masih relevan: memori, persahabatan, dan harga dari setiap pilihan hidup. BERITA VOLI

Persahabatan, ambisi, dan kejatuhan: Review Film Once Upon a Time in America

Salah satu inti cerita terletak pada hubungan antar tokoh utama yang dimulai sejak usia belia. Mereka tumbuh di lingkungan miskin dan keras, menemukan solidaritas melalui kelompok kecil yang terikat oleh tujuan yang sama, yaitu keluar dari keterbatasan. Namun, ambisi yang mereka kejar perlahan menuntun ke jalan berliku. Kejahatan tampak sebagai pintu keluar cepat dari kemiskinan, tetapi seiring waktu justru menjadi jerat yang memisahkan mereka. Persahabatan yang awalnya lugu berubah menjadi relasi penuh kecurigaan, pengkhianatan, dan perhitungan. Film ini menyoroti betapa rapuhnya ikatan manusia saat berhadapan dengan kekuasaan dan uang, sekaligus menunjukkan bahwa luka masa muda dapat membentuk seluruh arah kehidupan seseorang. Melalui kisah mereka, penonton diajak melihat bahwa keberhasilan dan kejatuhan sering lahir dari keputusan yang sama.

Waktu, memori, dan penyesalan yang menghantui: Review Film Once Upon a Time in America

Film ini memainkan konsep waktu dengan sangat kuat. Cerita tidak disusun secara linier, melainkan bergerak antara masa kecil, masa kejayaan, dan masa tua. Perpindahan ini membangun suasana reflektif, seolah penonton ikut masuk ke dalam ingatan tokoh utama yang menua dan kembali ke kota setelah menghilang bertahun-tahun. Ia harus berhadapan dengan bayang-bayang masa lalu: cinta yang tak selesai, sahabat yang hilang, dan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap. Memori ditampilkan bukan sebagai nostalgia yang manis, melainkan beban yang berat. Apa yang pernah dianggap kemenangan di masa muda ternyata meninggalkan jejak pahit yang tidak mudah dihapus. Tema penyesalan bergulir halus namun kuat, memperlihatkan bahwa waktu tidak hanya membawa perubahan, tetapi juga menuntut pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan yang pernah dibuat.

Cinta, kekerasan, dan sisi kelam manusia

Di balik latar dunia kriminal, film ini juga menyajikan kisah cinta yang rumit, penuh jarak dan luka. Hubungan tokoh utama dengan sosok perempuan yang ia kagumi sejak kecil menjadi benang merah emosional, menampilkan kontras antara idealisme masa muda dan realitas saat dewasa. Kekerasan hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari lingkungan mereka, tetapi film tidak semata-mata mengglorifikasinya. Kekerasan justru dipakai untuk menunjukkan dampaknya: keretakan relasi, hancurnya kepercayaan, dan membekasnya trauma. Karakter-karakternya tidak digambarkan sebagai pahlawan sempurna atau penjahat total, tetapi manusia yang terseret dalam lingkaran kelam sebagai konsekuensi dari ambisi dan keadaan. Dari sini, film menyampaikan bahwa dalam diri setiap orang selalu ada benturan antara rasa bersalah, keinginan menebus masa lalu, dan dorongan untuk bertahan hidup apa pun risikonya.

kesimpulan

“Once Upon a Time in America” tetap layak dibicarakan karena kedalaman temanya dan cara penyampaiannya yang menyentuh sisi emosional penonton. Film ini tidak hanya menggambarkan perjalanan dunia kejahatan, tetapi juga potret kehidupan yang ditentukan oleh persahabatan, cinta, dan penyesalan. Struktur alur yang melompati waktu membuatnya terasa seperti mozaik kenangan, sementara karakter-karakternya menghadirkan dilema moral yang nyata. Kisahnya mengajak kita merenungkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi; ia hidup dalam ingatan, keputusan, dan hubungan yang kita bangun. Pada akhirnya, film ini menghadirkan pertanyaan sederhana namun berat: jika diberi kesempatan mengulang, apakah kita akan memilih jalan yang sama?

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *