Review Film Stealing Raden Saleh: Heist Cerdas Indonesia

Review Film Stealing Raden Saleh: Heist Cerdas Indonesia

Review Film Stealing Raden Saleh: Heist Cerdas Indonesia. Stealing Raden Saleh (judul internasional: The Heist of Raden Saleh) yang tayang perdana pada 25 Agustus 2022 tetap menjadi salah satu film heist paling cerdas dan menghibur dalam sinema Indonesia modern. Disutradarai Angga Dwimas Sasongko dan dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai Piko, film ini menceritakan sekelompok pemuda berbakat yang merencanakan pencurian lukisan masterpiece Raden Saleh “The Arrest of Pangeran Diponegoro” senilai miliaran rupiah dari Istana Negara. Dengan durasi sekitar 122 menit, film ini menggabungkan elemen action, drama keluarga, dan twist yang rapi—semuanya dikemas dengan gaya visual yang stylish dan ritme cepat. Hampir empat tahun setelah rilis, di tengah maraknya film heist Hollywood yang sering terasa formulaik pada 2026, Stealing Raden Saleh masih terasa segar sebagai bukti bahwa Indonesia mampu membuat film pencurian pintar dengan identitas lokal yang kuat. ULAS FILM

Visual dan Produksi yang Stylish di Film Stealing Raden Saleh: Review Film Stealing Raden Saleh: Heist Cerdas Indonesia

Angga Dwimas Sasongko membawa nuansa sinematik yang sangat berbeda dari film Indonesia pada umumnya. Penggunaan warna dingin biru-hijau di adegan perencanaan, kontras dengan cahaya hangat di momen emosional keluarga, menciptakan estetika yang modern dan premium. Adegan heist utama—yang memakan hampir 30 menit akhir film—difilmkan dengan long take, split screen, dan editing cepat yang membuat penonton ikut tegang menghitung detik. Set Istana Negara yang direkreasi dengan detail tinggi (dari ruang koleksi seni hingga koridor bawah tanah) terasa mewah namun tetap realistis. Musik Andhika Triyadi yang menggabungkan orkestra klasik dengan beat elektronik modern memperkuat rasa ketegangan dan kegembiraan tanpa pernah mendominasi. Koreografi aksi dan gerakan kamera yang dinamis membuat setiap scene terasa seperti puzzle yang saling terkait—semakin mendekati klimaks, semakin rapi semuanya terhubung.

Tema Keluarga, Pengkhianatan, dan Pencurian sebagai Bentuk Pemberontakan: Review Film Stealing Raden Saleh: Heist Cerdas Indonesia

Di balik plot heist-nya, Stealing Raden Saleh adalah cerita tentang keluarga yang rusak dan berusaha menyatu kembali. Piko, pemuda jenius tapi terlilit utang ayahnya (Tio Pakusadewo), memimpin tim yang terdiri dari hacker (Umay Shahab), pembobol brankas (Angga Yunanda), seniman forger (Rachel Amanda), dan sopir (Ari Irham). Masing-masing karakter punya motivasi pribadi, tapi benang merahnya adalah keinginan untuk lepas dari belenggu masa lalu dan sistem yang tidak adil. Lukisan Raden Saleh yang dicuri bukan sekadar objek berharga—ia melambangkan warisan budaya yang “dijajah” oleh kekuasaan, dan pencurian menjadi bentuk pemberontakan kecil terhadap ketidakadilan. Twist akhir yang mengungkap motif sebenarnya Piko dan hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu momen paling emosional—menunjukkan bahwa “pencurian” terbesar dalam hidup adalah mencuri kesempatan untuk memperbaiki keluarga yang rusak. Film ini tidak menghakimi para pencuri; ia justru membuat penonton bersimpati pada mereka sambil tetap menjaga moral bahwa kejahatan tetap punya konsekuensi.

Warisan dan Pengaruh yang Masih Terasa di Film Stealing Raden Saleh

Stealing Raden Saleh menjadi salah satu film Indonesia terlaris 2022 dengan lebih dari 2,4 juta penonton dan memenangkan beberapa Piala Citra termasuk Sutradara Terbaik serta Aktor Pendukung Terbaik. Film ini membuka jalan bagi gelombang film heist lokal yang lebih ambisius dan stylish, serta membuktikan bahwa genre action-thriller Indonesia bisa bersaing secara teknis dengan produksi internasional. Di 2026, ketika banyak penonton mencari film lokal dengan plot pintar dan eksekusi rapi, Stealing Raden Saleh sering disebut kembali sebagai standar emas—terutama di kalangan yang bosan dengan film romcom atau horor repetitif. Adegan heist dan twist akhirnya masih sering dibahas di forum dan media sosial sebagai contoh “cara bikin ending yang memuaskan tapi tidak murahan”.

Kesimpulan

Stealing Raden Saleh adalah film heist yang cerdas, stylish, dan sangat Indonesia—sebuah perpaduan sempurna antara aksi mendebarkan, drama keluarga yang menyentuh, dan komentar halus tentang ketidakadilan sosial. Angga Dwimas Sasongko berhasil mengarahkan cast muda yang solid dengan chemistry kuat, sementara Reza Rahadian sebagai ayah Piko memberikan bobot emosional yang membuat film ini lebih dari sekadar pencurian lukisan. Hampir empat tahun berlalu, film ini masih relevan karena mengingatkan bahwa “mencuri” bisa menjadi metafor untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi hak kita—baik itu lukisan berharga, kebebasan, atau hubungan keluarga yang rusak. Jika Anda belum menonton ulang atau baru pertama kali, siapkan popcorn dan waktu dua jam—karena setelah kredit bergulir, Anda mungkin akan berpikir dua kali sebelum mengatakan “cuma film Indonesia”. Sebuah karya yang tak hanya menghibur, tapi juga membuat kita bangga.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *