Review Film MaXXXine: Bintang yang Terkutuk. Film MaXXXine (2024), bagian penutup trilogi X karya Ti West yang dibintangi Mia Goth sebagai Maxine Minx, telah menjadi salah satu horor-thriller paling dibicarakan sejak rilis teatrikal Juli 2024. Hingga Februari 2026, film ini masih sering muncul di rekomendasi “best slasher 2024” dan “80s horror homage” di berbagai platform, dengan rating rata-rata 6,4/10 dari penonton dan 74% di Rotten Tomatoes. Dengan durasi 103 menit, MaXXXine mengisahkan Maxine yang kini berusia 30-an dan berjuang menjadi bintang film Hollywood di Los Angeles tahun 1985, sambil dikejar pembunuh berantai yang menargetkan para bintang porno dan aktris muda. Berlatar di era video nasties dan kegilaan Hollywood, film ini berhasil menggabungkan slasher berdarah, satire industri film, dan eksplorasi ambisi pribadi dalam gaya neon-soaked yang khas Ti West. INFO CASINO
Alur Cerita yang Penuh Neon dan Darah: Review Film MaXXXine: Bintang yang Terkutuk
MaXXXine melanjutkan cerita Maxine setelah peristiwa Pearl dan X: ia kini bekerja sebagai aktris porno sambil mengikuti audisi film mainstream. Impiannya untuk menjadi bintang besar mulai terwujud ketika ia mendapat peran dalam film horor besar gar sutradara terkenal (Elizabeth Debicki). Namun di saat yang sama, seorang pembunuh berantai yang dijuluki “Night Stalker copycat” mulai membunuh rekan-rekan Maxine satu per satu—dengan cara yang brutal dan simbolis.
Maxine harus memilih antara melanjutkan impian kariernya atau mencari tahu siapa pembunuh itu sebelum ia menjadi korban berikutnya. Alur berjalan cepat dengan campuran adegan audisi yang penuh tekanan, pembunuhan berdarah, dan penyelidikan pribadi Maxine. Tidak ada jump scare murahan; ketegangan dibangun melalui atmosfer Los Angeles tahun 80-an yang penuh neon, pesta malam, dan bahaya tersembunyi di balik gemerlap Hollywood. Twist akhir film cukup mengejutkan tapi tetap logis, meski beberapa penonton merasa endingnya terlalu terbuka untuk interpretasi.
Performa Mia Goth dan Estetika 80-an yang Memukau: Review Film MaXXXine: Bintang yang Terkutuk
Mia Goth kembali menjadi bintang utama dengan penampilan yang sangat kuat sebagai Maxine Minx. Ia berhasil menunjukkan evolusi karakter dari gadis polos di X menjadi wanita ambisius yang dingin dan bertekad di MaXXXine—seseorang yang rela melakukan apa saja demi mimpi, termasuk mengorbankan orang lain. Ekspresi wajahnya yang dingin tapi rapuh, serta gerakan tubuh yang penuh percaya diri, membuat Maxine terasa sangat nyata dan menakutkan sekaligus.
Pemeran pendukung seperti Elizabeth Debicki (sutradara film horor), Bobby Cannavale (detektif polisi), dan Giancarlo Esposito (agen Maxine) memberikan bobot tambahan. Estetika 80-an dibuat sangat autentik: neon pink dan biru, video VHS, musik synthwave, dan kostum leotard serta rok mini yang khas era itu. Pengambilan gambar menggunakan lensa anamorfik memberikan rasa sinematik yang luas dan megah, kontras dengan kekerasan brutal yang terasa sangat intim dan berdarah.
Makna Lebih Dalam: Ambisi Hollywood dan Harga yang Harus Dibayar
Di balik cerita slasher, MaXXXine adalah kritik tajam terhadap industri hiburan Hollywood—khususnya bagaimana wanita sering dieksploitasi demi kesuksesan. Maxine mewakili ribuan aktris yang rela “mengorbankan” tubuh dan moral untuk naik pangkat, tapi akhirnya menyadari bahwa industri itu sendiri adalah “monster” yang mengisap darah. Pembunuh berantai dalam film ini bisa dibaca sebagai simbol dari industri yang “membunuh” mimpi para aktris muda, atau bahkan sebagai manifestasi dari rasa bersalah Maxine sendiri atas pilihan-pilihan destruktifnya.
Film ini juga menyentil tema bahwa ambisi besar sering kali datang dengan harga mahal: kehilangan empati, kehilangan orang terdekat, dan kehilangan diri sendiri. Maxine yang terus berusaha “naik” akhirnya harus menghadapi pertanyaan: apakah kesuksesan layak jika harus menginjak-injak orang lain? Ending film yang ambigu—Maxine berhasil “naik”, tapi dengan darah di tangannya—meninggalkan penonton dengan rasa tidak nyaman yang lama bertahan.
Kesimpulan
MaXXXine adalah film horor yang langka: berdarah sekaligus cerdas, retro sekaligus sangat modern, dan penuh gairah sekaligus menyedihkan. Kekuatan utamanya terletak pada performa Mia Goth yang luar biasa, estetika 80-an yang memukau, dan arahan Ti West yang berani menggabungkan slasher dengan kritik industri hiburan. Film ini berhasil menjadi penutup trilogi X yang kuat—mengubah cerita dari horor pedesaan menjadi horor urban yang penuh neon dan ambisi. Jika kamu mencari film yang tidak hanya menakutkan dengan darah, tapi juga membuatmu berpikir tentang harga kesuksesan dan eksploitasi di balik gemerlap Hollywood, MaXXXine adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan semakin merasakan betapa dinginnya ambisi yang dibalut dalam kilau lampu sorot. Film ini bukan sekadar slasher; ia adalah pengingat bahwa kadang “bintang” yang paling terang adalah yang paling terkutuk—dan harga yang harus dibayar untuk tetap bersinar sering kali adalah darah orang lain. Dan itu, pada akhirnya, adalah horor terdalam yang bisa ditawarkan sebuah film.