Review Film Like & Share: Eksplorasi Sisi Gelap Pubertas. Film Like & Share (2022), karya debut panjang sutradara Gina S. Noer yang tayang perdana di Festival Film Indonesia 2022 dan rilis resmi 3 November 2022, masih menjadi salah satu karya remaja Indonesia paling berani dan banyak dibicarakan hingga awal 2026. Hampir empat tahun setelah penayangan, film ini terus mendapat perhatian karena berhasil mengangkat isu pubertas dan dampak media sosial dengan cara yang jujur, gelap, tapi tetap penuh empati. Dibintangi Caitlin Halderman sebagai Amara, film ini mengisahkan perjalanan seorang gadis SMP berusia 13 tahun yang terjebak dalam tekanan “like dan share” di dunia maya. Di balik nuansa drama remaja yang ringan di permukaan, Like & Share sebenarnya adalah eksplorasi tajam tentang sisi gelap pubertas: rasa insecure yang membesar karena media sosial, bullying daring, tekanan penampilan fisik, dan bagaimana anak-anak usia belasan sering kali kehilangan kendali atas identitas mereka sendiri. MAKNA LAGU
Cerita Amara dan Tekanan Media Sosial: Review Film Like & Share: Eksplorasi Sisi Gelap Pubertas
Amara adalah siswi SMP biasa yang ceria tapi mulai merasa “kurang” ketika teman-temannya semakin aktif di media sosial. Ia ingin dianggap keren, ingin dapat banyak like, dan ingin diakui oleh teman sebaya. Ketika ia mulai mengunggah foto dan video pribadi, apa yang awalnya hanya ingin “disukai” perlahan berubah menjadi lingkaran setan: komentar negatif, body shaming, dan tekanan untuk terus tampil sempurna. Film ini tidak menampilkan cyberbullying secara ekstrem atau dramatis berlebihan; justru kekuatannya ada pada penggambaran yang realistis dan subtil—sebuah like yang tidak kunjung datang, sebuah komentar “lucu” yang sebenarnya menyakitkan, atau perasaan cemas setiap membuka aplikasi.
Gina S. Noer dengan cerdas menggunakan sudut pandang anak SMP: kamera sering close-up pada wajah Amara saat ia scroll feed, menangkap ekspresi harap-harap cemas, malu, dan akhirnya hancur ketika like tidak seperti yang diharapkan. Caitlin Halderman sebagai Amara memberikan penampilan yang luar biasa—ia berhasil menampilkan rasa insecure remaja yang sangat nyata tanpa terasa berlebihan. Karakter pendukung seperti sahabatnya yang ikut terbawa arus media sosial dan orang tua yang sibuk tapi peduli menambah lapisan realisme tentang bagaimana lingkungan terdekat sering kali tidak menyadari betapa berat tekanan yang dihadapi anak-anak di dunia maya.
Atmosfer dan Teknik Penggambaran yang Efektif: Review Film Like & Share: Eksplorasi Sisi Gelap Pubertas
Film ini menggunakan warna-warna cerah dan lighting hangat di adegan sekolah serta rumah, tapi berubah menjadi tone lebih dingin dan desaturasi ketika Amara terjebak di dunia maya. Penggunaan layar ponsel sebagai frame sering kali membuat penonton merasa “terkurung” bersama Amara—scrolling, like, komentar, dan rasa cemas yang tak kunjung berhenti. Musik dari Lomba Sihir dan sound design yang halus menambah rasa gelisah tanpa terasa berlebihan. Tidak ada jumpscare atau adegan dramatis berlebihan; ketegangan dibangun melalui keheningan setelah notifikasi masuk, tatapan kosong Amara ke cermin, dan momen-momen kecil ketika ia berusaha “menjadi sempurna” di depan kamera.
Makna Lebih Dalam: Sisi Gelap Pubertas di Era Digital
Di balik cerita remaja, Like & Share adalah film tentang sisi gelap pubertas di era media sosial. Film ini menunjukkan bagaimana anak usia SMP—saat identitas diri masih terbentuk—sering kali membandingkan diri dengan “versi terbaik” orang lain di layar. Rasa tidak aman fisik, tekanan untuk tampil sempurna, dan keinginan diakui menjadi racun lambat yang merusak kesehatan mental. Film ini tidak menghakimi remaja yang terjebak seperti Amara; justru ia menunjukkan bahwa mereka adalah korban dari sistem yang mendorong validasi melalui like dan share.
Banyak penonton—terutama generasi muda dan orang tua—merasa film ini seperti pengingat bahwa pubertas di era digital jauh lebih berat daripada dulu. Pesan terdalamnya adalah bahwa “like” bukan ukuran nilai diri, dan bahwa anak-anak butuh ruang aman untuk tumbuh tanpa tekanan performa di depan kamera.
Kesimpulan
Like & Share adalah film yang langka: ringan sekaligus sangat tajam, menghibur tapi penuh kedalaman, dan relevan tanpa terasa menggurui. Kekuatan utamanya terletak pada potret pubertas yang jujur di era media sosial, penampilan luar biasa Caitlin Halderman sebagai Amara, dan pesan bahwa rasa tidak aman remaja sering kali berasal dari dunia luar yang terlalu keras. Film ini berhasil menjadi cermin bagi orang tua, guru, dan remaja sendiri tentang bahaya validasi digital yang berlebihan. Di tengah banjir film remaja yang penuh drama berlebihan, Like & Share menawarkan kejujuran yang menyegarkan dan menyentuh. Jika kamu mencari tontonan yang bikin tertawa sekaligus merenung tentang dampak media sosial pada anak muda, film ini sangat direkomendasikan. Like & Share bukan sekadar film remaja; ia adalah peringatan lembut tapi kuat bahwa di balik layar yang indah sering tersembunyi perjuangan batin yang berat. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling penting dari sebuah film.