review-film-ninja-iii-the-domination

Review Film Ninja III: The Domination

Review Film Ninja III: The Domination. Film Ninja III: The Domination yang dirilis pada 1984 masih jadi salah satu entri paling aneh dan menghibur dalam demam ninja era 80-an. Disutradarai oleh Sam Firstenberg, film ini campur aduk elemen supernatural, possession, dan aksi martial arts dengan cara yang benar-benar over-the-top. Cerita mengikuti Christie, instruktur aerobik seksi yang tanpa sengaja dirasuki arwah ninja jahat setelah menyentuh pedangnya saat ninja itu sekarat. Arwah tersebut pakai tubuh Christie untuk balas dendam pada polisi yang membunuhnya, sambil bikin hidup gadis itu kacau balau. Dengan Lucinda Dickey sebagai pemeran utama dan Sho Kosugi sebagai pemburu ninja, film ini tawarkan hiburan B-movie yang penuh eksploitasi dan tak masuk akal. BERITA BOLA

Plot yang Gila dan Penuh Eksploitasi: Review Film Ninja III: The Domination

Cerita Ninja III dimulai dengan ninja hitam super kuat yang habisi puluhan polisi di lapangan golf dengan senjata lengkap—pedang, shuriken, bahkan menghilang ke pohon. Saat sekarat, ia jatuhkan pedangnya ke Christie yang kebetulan lewat. Arwah ninja masuk ke tubuhnya, bikin Christie tiba-tiba ahli bela diri dan mulai bunuh polisi satu per satu dalam trance. Di siang hari, ia instruktur aerobik berpakaian neon yang pacaran dengan polisi, tapi malam hari jadi pembunuh berdarah dingin. Sho Kosugi muncul sebagai Yamada, ninja baik yang tahu cara usir arwah dengan ritual mistis. Plotnya penuh lubang logika—kenapa arwah pilih tubuh instruktur aerobik? Tapi justru kekacauan itu yang bikin film ini unik, campur The Exorcist dengan ninja gore.

Aksi dan Elemen Kultus 80-an: Review Film Ninja III: The Domination

Aksi jadi campuran brutal dan absurd: pembantaian awal ninja hitam penuh darah semprot dan stunt gila, sementara possession scene Christie pakai efek glow mata merah dan gerakan robotik yang cheesy. Adegan aerobik neon dengan legging dan headband khas 80-an jadi highlight kultus, lengkap dengan montage latihan seksi sebelum berubah jadi pembunuh. Pertarungan final di kuil terbengkalai antara Yamada dan arwah ninja penuh wire-fu, ledakan, dan slow-motion dramatis. Sho Kosugi tampil karismatik seperti biasa, sementara Dickey—yang sebelumnya penari breakdance—lakukan sebagian besar stunt sendiri. Musik synth murah dan editing cepat tambah vibe eksploitasi, membuat film ini terasa seperti mimpi demam 80-an yang hidup.

Penerimaan dan Status Kultus

Saat rilis, Ninja III dapat kritik buruk karena plot tak masuk akal dan eksploitasi berlebih—banyak bilang terlalu konyol bahkan untuk standar ninja movie. Namun, box office cukup sukses berkat demam ninja waktu itu, dan kini statusnya naik jadi kultus favorit di kalangan penggemar B-movie. Adegan aerobik, possession ala Exorcist, dan akhir ritual dengan asap serta cahaya laser sering dikutip sebagai “so bad it’s good”. Film ini tutup trilogi ninja loose dari Cannon Films, meski tidak berhubungan langsung dengan dua sebelumnya. Hingga kini, ia sering muncul di daftar “worst/best ninja movies” atau malam tontonan trash, terutama bagi yang suka aksi 80-an tanpa pretensi.

Kesimpulan

Ninja III: The Domination adalah paket eksploitasi 80-an yang gila: possession ninja, aerobik neon, balas dendam berdarah, dan ritual mistis dalam satu film. Meski plot absurd dan efek usang, pesona over-the-top, aksi brutal, dan vibe retro membuatnya abadi sebagai kultus klasik. Bagi penggemar ninja movie murahan atau nostalgia 80-an, ini wajib tonton untuk rasa hiburan tanpa batas—hanya jangan harapkan logika atau akting serius. Di era sekarang, film ini bukti bahwa kekonyolan bisa jadi kekuatan, tetap layak ditonton ulang untuk tawa dan adrenalin sekaligus.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *