Review Film The Dead Room. Di akhir 2025, film The Dead Room (2015) dari Selandia Baru masih sering direkomendasikan sebagai horor haunted house low-budget yang solid dan atmosferik. Disutradarai Jason Stutter, film ini ceritakan tiga investigator paranormal—dua ilmuwan skeptis dan seorang medium muda—yang dikirim ke rumah pertanian terpencil setelah keluarga penghuni kabur karena teror hantu. Dengan durasi sekitar 80 menit dan cast hanya tiga orang utama, film ini fokus pada ketegangan lambat di lokasi terbatas, tanpa found footage atau gore berlebih. Meski reception campur, ia punya penggemar setia karena build-up tegang dan ending yang homage klasik horor. BERITA BOLA
Plot dan Build-Up Ketegangan yang Efektif: Review Film The Dead Room
Cerita ikuti Scott, pemimpin tim skeptis yang ingin bukti ilmiah, Liam teknisi setia, dan Holly medium muda yang sensitif. Mereka pasang peralatan di rumah kosong untuk tangkap bukti haunting. Awalnya hanya kejadian kecil—lampu berkedip, pintu terbuka sendiri, suara aneh—tapi perlahan eskalasi jadi serangan fisik seperti furnitur terbang dan suara mengerikan. Film ini slow burn khas: paruh pertama fokus observasi dan debat sains vs supernatural, baru paruh akhir meledak dengan mayhem poltergeist. Twist soal “dead room” aman dan rahasia tersembunyi beri kejutan, meski beberapa predictable. Ending homage Evil Dead dengan chaos total dan visual hantu ganas, beri payoff satisfying meski agak rushed.
Akting dan Atmosfer yang Menjadi Kekuatan: Review Film The Dead Room
Dengan hanya tiga aktor utama, performa mereka krusial dan berhasil. Scott dimainkan dengan karisma skeptis yang meyakinkan, Liam beri dukungan teknis yang relatable, sementara Holly tunjukkan vulnerability medium yang bikin simpati. Chemistry tim terasa alami—debat mereka soal bukti vs intuisi tambah kedalaman. Atmosfer rumah pertanian Selandia Baru yang sepi, dingin, dan gelap ciptakan rasa isolasi kuat—pemandangan luar hijau tapi hujan deras, interior remang dengan peralatan EMF dan kamera. Efek praktis poltergeist bagus untuk budget kecil, suara ambient dan musik minimalis tambah creeps tanpa jumpscare murahan. Film ini hindari CGI berlebih, fokus praktikal yang beri feel old-school haunting.
Kelebihan serta Kelemahan yang Terasa
Film ini unggul di pendekatan ilmiah awal—mirip The Stone Tape—dan eskalasi ketegangan yang gradual, bikin penonton ikut paranoid. Budget kecil tapi produksi rapi, akting solid, dan homage urban legend lokal beri rasa autentik Selandia Baru. Namun, kelemahan jelas: pacing lambat di awal bikin beberapa bosan, karakter medium agak stereotip goth, dan ending agak tacked-on tanpa penjelasan lengkap soal asal entitas. Beberapa efek akhir terasa cartoonish, dan kurangnya backstory hantu buat beberapa merasa kurang memuaskan. Meski begitu, film ini tak pretensius—tahu diri sebagai horor sederhana yang fokus scare dan mood.
Kesimpulan
The Dead Room (2015) jadi haunted house horor low-budget yang atmosferik dan underrated di akhir 2025, dengan build-up tegang, akting kuat dari cast kecil, dan payoff akhir yang chaotic fun. Cocok buat penggemar ghost investigation seperti The Conjuring versi minimalis atau horor Selandia Baru seperti Housebound. Meski slow burn dan ending kurang rapi, film ini berhasil beri chills konsisten tanpa klise berlebih, bukti horor bagus tak butuh budget besar. Rekomendasi untuk malam sendirian yang ingin ketegangan perlahan tapi pasti—film yang tak revolusioner, tapi cukup solid untuk satu tonton ulang saat mood haunting farmhouse.